softskill
 

GREEN POLITIC ( Our Standing Moral )

Utama. S

 

Bukan Untuk Saya

Bukan Untuk Kamu

Tapi Untuk Rakyat

 

Kunci Menuju GREEN POLITIC

- Hubungan Antara Pemimpin dan Rakyat atau Bawahan, Adalah Tidak Sembarangan, Disana Ada History & Janji Yang Harus Diwujudkan.

-   Transaksi Pada Ide dan Gagasan

-   Menjadikan Kampanye Untuk Menjalankan Program. Bukan Untuk Menduduki Jabatan.

 

Siapapun yang menjadi pemenang dalam pemilu, diharapkan membawa konsep. Hal ini perlu untuk tujuan dan target target kedepan dalam membawa lokomotif pemerintahan.

GREEN POLITIC adalah sebuah PERGERAKAN, disebut demikian karena :

“ HARUS DILAKUKAN BERSAMA SAMA “

Membawa konsep GREEN POLITIC dengan Tagline “ Our Standing Moral “ artinya kita mempunyai moral yang sama dalam memajukan Pemerintahan / Korporasi.

Bukan Untuk SayaBukan Untuk KamuTapi Untuk Rakyat

                                      

                                ORGANISASI DIJALANKAN DENGAN “ TERBUKA “

Pemerintahan dijalankan dengan terbuka dengan kesetaraan. Sekat kaku yang membuat roda berjalan lambat, digantikan dengan cara kerja yang lebih memberdayakan.

KALAU MERASA SAJA TIDAK, BAGAIMANA MAU BERUBAH !!!

 

 

Kita bisa Membohongi diri sendiri, Dalam satu waktu

             Kita bisa Membohongi orang lain, Dalam satu waktu

Tapi ingatlah, Kita tidak bisa membohongi selamanya

 

Spiritualitas otak membawa kebaikan bagi pemimpin dan rakyat.

Menjadi penguasa diri sendiri adalah penderitaan.

Pikiran Menderita tentunya Tubuh juga terganggu.
 

KESOMBONGAN ( KEJATUHAN … KITA … SEMUA )


Utama. S

 

SUKSESKAN INDONESIA EMAS 2030

Hari ini saya mengulas awal yaitu kesombongan

Untuk selanjutnya saya memakai kata kesombongan

 

KESOMBONGAN ADALAH AWAL MELAKUKAN KORUPSI

 

   Kesombongan sama tuanya dengan peradaban umat manusia.

   Kesombongan adalah awal keterpurukan

   Kesombongan adalah awal jatuhnya kepercayaan

   Kepercayaan hilang, hilanglah segala – galanya


KORUPSI KEKUASAAN, WAKTU, UANG, TENAGA, PENGETAHUAN

Kepemimpinan melekat dalam setiap diri manusia, baik manusia berpangkat maupun manusia biasa. Demikian juga kesombongan selalu melekat dalam tiap diri manusia.

Sadar atau tidak sadar kita melakukannya setiap hari, baik saat kerja sehari-hari, berkendaraan, bercengkrama, menjalankan jabatan, memimpin, berkotbah, dll.

Kesombongan terjadi dimana- mana, disemua sektor pekerjaan. Kesombongan politikus, pejabat, pemimpin agama, aparat, kepala sekolah dan masih banyak lagi.

Apakah ini hilangnya budi pekerti di ranah pendidikan. Dimana pembangunan karakter.

 


Kesombongan Politikus & Caleg Partai

Politikus dan Calon Legislatif banyak yang berkampanye menyuarakan programnya untuk menduduki jabatan, bukan untuk menjalankan program. Lapangan parkir DPR sudah seperti showroom mobil mewah. Bagaimana ini, era reformasi menjadi semakin banyak mobil mewah dan banyak juga pengangguran. Rakyat sudah dilupakan, mengingat rakyat hanya masa pemilu saja.

Semua mendadak ramah menyapa konstituen dan calon konstituen, baik lewat media cetak, elektronik, baliho dan billboard. Penuh senyuman dan sapaan.

Masa kampanye legislatif telah usai, ada yang semakin sombong dan ada yang menuai kesombongan.

Luar biasa dampak yang dihasilkan semua hasil cuap cuap bermodal oksigen dan uang. Entah dari mana semua pikiran sombong begitu serentak dan berjamaah. Itulah dunia otak, dimana unsur fluida / zat alir menginduksi otak politikus dan calon politikus.

Semua bertingkah seperti pahlawan yang bisa membawa perubahan dan kemajuan bangsa. Berteriak masalah ekonomi, pendidikan, sosial, pemerintahan, pengangguran dan sebagainya. Semua berubah menjadi pahlawan yang bisa membawa kesejahteraan dan kecerdasan. Logika dari mana ya, kampanye nggak cerdas dan asal bicara bisa membawa kemajuan bangsa.

Sekarang yang merasa pahlawan ada yang berhasil mendapat kursi dan gagal mendapat kursi. Yang pasti kesombongan pasti tetap berjalan. Yang mendapat kursi merasa hebat dan yang gagal menuduh kecurangan. Semua mengalami gangguan jiwa. Sekali lagi itulah kesombongan.


Kesombongan Pejabat

Tujuan Negara sebetulnya hanya simple dan singkat, yaitu :

          1.Mencerdaskan Kehidupan Bangsa

          2.Mensejahterakan Kehidupan Bangsa

Sekarang kesombongan berganti arah lagi, rakyat dituduh kurang siap. Justru dari dulu rakyatlah yang lebih siap. Tapi ada hal yang luar biasa dari pengkodisian pemenangan pemilu. Banyak politikus / pejabat memberi info yang semu pada rakyat. Keberhasilan –keberhasilan yang dicapai diberitakan secara terus menerus. Rakyat terbuai dan menyangka itu adalah keberhasilan pengelolaan. Bagaimana mungkin kemiskinan bertambah dan pengangguran juga bertambah diklaim keberhasilan. Bagaimana mungkin hutang bertambah juga tidak diberitahukan kepada rakyat Indonesia tercinta ini. Bagaimana ini semua terjadi, sekali lagi kesombongan. Para politikus & pejabat, sadarlah dan berubahlah, karena rakyat telah memilih dan mengamini keinginan anda. Bekerjalah mewakili rakyat Indonesia bukan bekerja untuk partai.

 

Kesombongan Kepala Sekolah

Tentu anda tidak menyangka alinea ini, kesombongan juga terjadi dilingkungan pendidikan yang dialami siswa. Contoh kasus ini terjadi di Jogja, disalah satu sekolah swasta terkenal di jogja dan semoga tidak terjadi lebih banyak di dunia pendidikan.

Saat ujian orang tua siswa belum bisa melunasi uang sekolah sebagai sarat bisa ikut ujian. Orang tua meminta dispensasi mengisi surat pernyataan. Mereka berpikir masalah sudah selesai. Saat anak pulang ujian, memprotes orang tuanya dan merasa malu karena kartu ujiannya dibedakan dan tiap hari wajib lapor untuk mengambil kartu ujian. Lalu apa gunanya surat pernyataan. Apa tidak mikir dampak psikologis anak. Luar biasa Liberalnya ( hanya yang mampu saja ). Sekali lagi itulah kesombongan.

 

Kesombongan Pemimpin Agama

Harusnya perbedaan membawa persatuan, bukan membawa kerenggangan. Pidato pidato pemimpin agama masing masing begitu semangat. Merasa paling dekat dengan Tuhan. Sungguh yang saya tahu rakyat jelata yang paling dekat dengan Tuhan. Pemimpin agama begitu merasa paling kusuk berdoa dibanding rakyat jelata. Merasa paling benar cara berdoanya. Merasa paling terpanggil menjadi hamba Tuhan. Sungguh kesombongan yang paling tidak terlihat dengan kaca mata penglihatan dan kuping rakyat. Sungguh kesombongan yang tidak terdeteksi.

 

Apakah rakyat jelata tidak sombong ?

Rakyat pun juga melakukan kesombongan, mereka begitu bangga mencontreng pilihannya. Merasa tanpa beban, pokokya melakukan hak nya, contoh : memilih calon politikus dan partai yang tidak jelas rekam jejaknya dan kapabilitasnya. Apa yang terjadi itu tidak dipikirkan dikemudian hari. Kesombongannya adalah tidak belajar banyak melihat perkembangan informasi. Yang penting dengar programnya, asal menerima. Belum bisa membedakan antara mendengar dan mendengarkan. Rakyat kurang cerdas, rakyat kurang sejahtera itupun terjadi karena kemalasan yang dilakukan. Rakyat juga melecehkan DPR dengan pilihan yang asal pilih yang sebetulnya tidak mampu bekerja. Itulah kesombongan yang dilakukan.


Pemilu: Pilkada, Pilleg, Pilpres

Semua merasa siap dan bahkan paling siap. Tidak ada yang tidak siap. Yang tidak siap pun tetap gagah merasa siap.

Sedikit yang santun berpolitik, kampanyenya juga merasa menjadi pahlawan yang paling siap mengentaskan kemiskinan dan siap membawa Indonesia lebih baik. Rakyat yang pandai dianggap bodoh. Janji pahlawan pemilu selalu terdengar sedap dan nyaman didengar. Sekali lagi berbicara program hanya untuk menduduki jabatan, bukan untuk menjalankan program.

Pengendara sepeda motor melakukan tindakan kasar dengan naik di trotoar, pengendara mobil mewah menunjukkan keperkasaanya di jalan, politikus dan pejabat mengeluarkan statement kasar. Jadi semua juga sombong. Apa yang harus diperbuat.


Marilah kita bersama sama menilai calon dan juga menilai diri kita ?.

Kita nilai apakah kandidat akan bekerja mewakili rakyat atau mewakili partai?

Kita nilai apakah kandidat juga mendadak ramah dan penuh janji dan masuk akal programnya.

Kita nilai apakah selama ini kandidat yang akan berkompetisi, masuk kriteria sok pahlawan yang siap membawa kecerdasan dan kesejahteraan dengan mudah. Apakah kandidat juga orang yang egaliter, artinya memberi informasi yang benar kepada rakyat. Tapi apapun rakyat & pemimpin dari dulu mempunyai sifat mudah lupa segala hal yang pernah dilalui.


Kita juga menilai diri kita sendiri, apakah siap melakukan keputusan terbaik dari yang baik. Atau juga siap melakukan keputusan terbaik dari yang jelek. Apakah siap dipimpin dan bersama sama membawa Indonesia lebih maju.

Demokrasi bukan sekedar kebanggaan. Marilah menatap Indonesia dengan cerdas, sedikit saya ulas pikiran kedepan kondisi Indonesia 21 tahun kedepan. Saya menyebutnya :

A. SUKSESKAN INDONESIA EMAS 2030 !!!

Saya optimis Indonesia Emas 2030 tercapai, ijinkan saya memberikan 5 butir pemikiran, antara lain :

  1. Adanya Energi Baru yang melimpah (gas, biofuel, natural )
  2. Demografi : Penduduk banyak, Usia produktivitas tinggi. Bandingkan sebagian Negara didunia dengan penduduk sedikit dan pertumbuhan penduduk sedikit artinya lebih banyak usia tua yg tidak produktif lagi
  3. Selat Malaka ( Minyak, Pertambangan, Jalur Perdagangan Strategis ), Hutan Tropis, serta 2 musim ( lebih punyak waktu yang stabil )
  4. Demokrasi yang berkembang …. Semakin berkembang ……& …… Maju.
  5. Kepemimpinan generasi muda yang semakin meninggalkan pola lama yaitu KORUPSI.

B. KORUPSI BUKAN BUDAYA

Begitu banyak kata kata Budaya Korupsi yang beredar di masyarakat, media masa baik cetak atau elektronik, kaum yang katanya intelektual, dll. Bahasa Budaya Korupsi diterima otak, sehingga menambah luasan korupsi.

Saya yakin bahwa kedepan generasi muda mulai meninggalkan kata budaya korupsi dan memahami bahwa korupsi bukan budaya. Budaya adalah sesuatu yang baik dan berguna tiada merugikan orang, masyarakat juga Negara.

Demikian kata sambutan ini, saya percaya sebetulnya begitu banyak pemikiran yang lebih maju. Marilah bersama sama membangun dengan dimulai dari diri kita sendiri. Salam Sejahtera

 

Jakarta, 25 Agustus 2011.